Persaingan Jaringan 5G Smartfren Dan Telkomsel

Persaingan Jaringan 5G Smartfren Dan Telkomsel

Presiden Direktur Smartfren, Merza Fachys mengatakan aksi korporasi yang dilakukan perseroan dengan membeli 20 persen saham Moratelindo, merupakan langkah yang strategis. Sebab dengan cara ini, Smartfren akan bersiap menghadirkan jaringan 5G seperti Telkomsel.

"Terkait dengan merger, ini merupakan langkah strategis yang dilakukan Smart Telecom dengan mengakuisisi Moratelindo sebesar 20 persen. Lewat langkah ini, kami yakin bisa memperkuat infrastruktur telekomunikasi melalui proses fiberisasi, sehingga kita semakin siap menghadirkan 5G," ungkap Merza.

Sebelumnya, PT Smartfren Telecom Tbk mengumumkan telah menyuntik dana ke PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) melalui anak usahanya PT Smart Telecom sebesar Rp 360 miliar.

Dengan penyertaan modal saham ini, PT Smart Telecom memiliki 20,5 persen saham Moratelindo.

"Dengan jumlah penyertaan modal tersebut, Smart Telecom akan menjadi pemegang saham minoritas, tidak menjadi pemegang saham pengendali, dan tidak menempatkan pengurus di Moratelindo," jelas Direktur Smartfren Telecom Antony Susilo dalam keterangan tertulis.

5G Perlu Fiber Optik 

Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan untuk menggelar jaringan 5G yang memiliki kualitas bagus, maka dibutuhkan jaringan backbone dari fiber optik, bukan dari microwave.

"Jadi fiberisasi harus dilakukan optimal baik di kota-kota maupun di daerah-daerah," ungkap dia.

Perlu diketahui, 5G dalam teorinya harus mampu menghadirkan peak data rate hingga 20 Gbps atau sekitar 20 kali lebih tinggi dari peak data rate 4G. Kemudian, 5G pun memiliki latensi yang begitu rendah, yaitu 1ms, atau sekitar 10 kali lebih rendah dari 4G.